Setetes Air Hitam
Darah segar masih
tercium diujung pagi
ketika seorang anak
manusia beranjak dewasa
Terbangun dari atas
ranjang bambu yang telah renta
Menelisik lirih dalam
dada akan ganasnya perjalanan dunia
Tak tahu sampai kapan
ia mampu menjalaninya
Hanya keyakinan yang
membuatnya tetap bertahan hidup hingga kini
Sebuah harapan yang mampu
menjadikan hidup terasa berarti
Dinegeriku
yang damai diatas kebinekaan
Tanah
subur nan hijau membentang luas tak terkira
Gunung-gunung
menjulang tinggi megah membahana
Lautan
biru, dalam, jernih, berjuta satwa terkandung didalamnya
Udara
bersih tanpa asap tanpa polusi
Sebuah
negeri impian bagi semua
Namun kini
Ia tengah menangis
dalam duka
Jutaan emas dan perak
direnggut oleh tangan buta yang nista
Kebencian tiada batas
mengatasnamakan agama
Simpanan si miskin raib
dibawa kabur para penguasa durjana
Jangankan kakap dan
udang, ubur-ubur malang dijarah tiada jera
Oh…
betapa sakitnya hati ini
Bagaikan
ribuan jarum menusuk tepian hati
Darah
hitam mengembas pelan menyiksa
Seolah
tak rela tuk tinggalkan jiwa yang tengah gulana
Namun
apalah daya aku ini
Hanya
anak dekil yang cinta pada negerinya
Berharap
semua kebaikan terlimpah padanya
Berkah
Illahi terpancar di setiap sudut jiwa
Adakah kiranya disana
Para wakilku yang duduk
di atas kursi mewah nan indah
Sedikit peduli akan
cintaku yang tak terbalas ini
Cinta suci yang dulu
pernah kita miliki bersama
Saling berbagi dan
berharap bahagia di ujung cerita
Bersama tersenyum di
bukit nusantara
Mendayung sampan kecil
di sela ombak di danau sutera
Menebarkan damai untuk
semua
Untukmu wahai negeriku
Kusembahkan sisa darah
dan nafasku
Karya Darmono, lahir di Banajarnegara 01 September
1989. Mahasiswa S1 jurusan Pendidikan
Guru Sekolah Dasar Universitas Negeri Semarang,