Gadis Invisible
Elang hitam terbang melayang diantara rimbun bambu dan
alang-alang. terbesit sebuah tanya dalam hati, tentang kebesaran negeri yang
indah nan permai. terkuak sebuah tutur dari lelaki tua bermata sipit. rambutnya
yang telah putih menandakan usia yang tak lagi muda. suaranya pun tak lagi
merdu bahkan jika disimak dengan seksama maka akan terdengar parau. kulitnya
yang gosong terbakar matahari melambangkan kerja keras dan semangat yang
tinggi.
Alunan kelentangan dan gendang Dayak
masih saya terdengar meskipun waktu sudah beranjak dari pukul 11.00 WITA. para
penari Beliatn belum juga tampak lelah meskipun mereka telah menari selama 12
malam berturut-turut. Tarian yang diperuntukan bagi penyembuhan orang sakit ini
sudah tidak diketahui lagi awal mulanya, pewarisan yang melembaga secara
tradisional membuatnya lestari hingga di era globalisasi sekarang ini. para
penari ini adalah dukun dayak yang terkenal sakti.
Di iringi alunan kelentangan akupun
meraba-raba tentang gadis invisible bersuara merdu. Siapakah gerangan ini yang
memiliki suara seindah alunan violin Sepanyol, lirih mendayu mengalunkan
nada-nada yang terajut dalam sebuah simphoni, menggetarkan jiwa bagi siapapun
yang mendengarnya. terlalu naïf bagi manusia biasa untuk tidak hanyut dalam
dendang kidung yang menggema diantara dinding batu berhiaskan epifit hijau dan
pakis kelabu.
benarkah sosok ini adalah Hanifah Dian
S. yang lahir di Rembang 03 Mei 1991? ataukah seorang gadis yang tinggal di
kampung Gunungsari Rt 01 Rw 04 Kaliori? ataukah anak bangsa yang telah
membangun negeri melalui pendidikan formal di SDN 01 Gunungsari, SMPN 01
Rembang, dan SMAN 02 Rembang?. ah.... entahlah kataku, aku tak banyak tahu
tentang dia,, terakhir yang aku tahu dia adalah aktivis pembebasan. selebihnya
aku gak terlalu mengenalnya.
pernah suatu pagi pada bulan November 2010 aku
memperhatikanya ketika ia ikut serta dalam agenda bulanan Senam bersama
masyarakat di jalan bawah Indopermai. sesosok gadis cantik yang mampu mencuri
perhatianku, sosok ceria yang tersembunyi dibalik wajah manis nan keibuan.
masih ingat betul senyuman yang ia bagikan pada anak-anak yang ada di
sekelilingnya. sebuah senyuman indah, seindah
mawar yang merekah di ujung pagi.