group

group

Selasa, 12 Juli 2016

Gads Invisible

                            Gadis Invisible

Elang hitam terbang melayang diantara rimbun bambu dan alang-alang. terbesit sebuah tanya dalam hati, tentang kebesaran negeri yang indah nan permai. terkuak sebuah tutur dari lelaki tua bermata sipit. rambutnya yang telah putih menandakan usia yang tak lagi muda. suaranya pun tak lagi merdu bahkan jika disimak dengan seksama maka akan terdengar parau. kulitnya yang gosong terbakar matahari melambangkan kerja keras dan semangat yang tinggi.
Alunan kelentangan dan gendang Dayak masih saya terdengar meskipun waktu sudah beranjak dari pukul 11.00 WITA. para penari Beliatn belum juga tampak lelah meskipun mereka telah menari selama 12 malam berturut-turut. Tarian yang diperuntukan bagi penyembuhan orang sakit ini sudah tidak diketahui lagi awal mulanya, pewarisan yang melembaga secara tradisional membuatnya lestari hingga di era globalisasi sekarang ini. para penari ini adalah dukun dayak yang terkenal sakti.
Di iringi alunan kelentangan akupun meraba-raba tentang gadis invisible  bersuara merdu. Siapakah gerangan ini yang memiliki suara seindah alunan violin Sepanyol, lirih mendayu mengalunkan nada-nada yang terajut dalam sebuah simphoni, menggetarkan jiwa bagi siapapun yang mendengarnya. terlalu naïf bagi manusia biasa untuk tidak hanyut dalam dendang kidung yang menggema diantara dinding batu berhiaskan epifit hijau dan pakis kelabu.
benarkah sosok ini adalah Hanifah Dian S. yang lahir di Rembang 03 Mei 1991? ataukah seorang gadis yang tinggal di kampung Gunungsari Rt 01 Rw 04 Kaliori? ataukah anak bangsa yang telah membangun negeri melalui pendidikan formal di SDN 01 Gunungsari, SMPN 01 Rembang, dan SMAN 02 Rembang?. ah.... entahlah kataku, aku tak banyak tahu tentang dia,, terakhir yang aku tahu dia adalah aktivis pembebasan. selebihnya aku gak terlalu mengenalnya.
pernah suatu pagi pada bulan November 2010 aku memperhatikanya ketika ia ikut serta dalam agenda bulanan Senam bersama masyarakat di jalan bawah Indopermai. sesosok gadis cantik yang mampu mencuri perhatianku, sosok ceria yang tersembunyi dibalik wajah manis nan keibuan. masih ingat betul senyuman yang ia bagikan pada anak-anak yang ada di sekelilingnya. sebuah senyuman indah, seindah mawar yang merekah di ujung pagi.


Zamrud Katulistiwa

Zamrud Katulistiwa

kini telah tampak hitam kelam disudut meja
seonggok serbet diatas jengkok tua
menghamburkan aroma bak semangka di saat berbuka
sedap namun enggan untuk disantap
karna dialah sang penggoda yang tak berkitab

          diujung jauh sana tergantung dua anjat tanpa makna
          hasil karya tangan tunjung dan benuaq
          rotan dibelah raut dibuka
          pemuda tersenyum menatap jempolnya

                           tepat dibawah plapon kayu meranti
                           tergantung lampu tanpa nyala api
                           karena ialah sang bola mati
                           tiada arus tiada aki

          kebahagiaan ini telah lama dilalui
         hidup tenang tanpa apple dan blackberry
         tanpa Samsung dan Sony
         tanpa signal takan buat kita mati

             inilah kisah hidup sang guru
         di dalam zamrud katulistiwa
     alam yang subur di Mahakam tepi
bersarang buaya dan anaconda

perahu dikayuh dilepas tali
pertanda malam tlah berganti
si nyompe bergegas tinggalkan pondok
terjun ke teluk bersama sang kodok
pukat diangkat batu terikat
tanpa patin tanpa boyot
kendia kecil ramah menyapa
mengelus dada si anak desa


Kamis, 30 Juni 2016 pukul 22:13 WITA Kutai Barat