group

group

Rabu, 14 Juni 2017

Becapet (Nostalgia Pasar Karangkobar)



Becapet 

Pipt kecit berkicau di pagi yang cerah, merdu mencuit diantara heningnya suasana desa, bertengger mesra diatas ranting kecil yang rapuh, mata kecil bening menatap tajam tanpa dosa, kaki lentik mencengkeram erat pada ranting penuh percaya diri. 

Terbang melayang tinggalkan sarang dalam peraduan, menyusuri awan putih menyongsong masa depan, mencari secercah cahaya bening yang mungkin masih tersisa untuk si kecil yang baru saja menginjak masa remaja. Mendengar di sebuah rawa ada suatu celah yang dapat di singgahi untuk sekedar mengecap segarnya air murni yang sejak dulu di impikan oleh semua orang, air suci minuman para dewa, air yang dapat menjadikan orang tersenyum meskipun sedang gundah hatinya, menjadikan orang menangis bahagia sekalipun telah lepas kuku dari jarinya, dan konon air ini dapat mengabulkan semua cita-cita. Air ini telah diteguk oleh Soekarno kecil yang pada masanya menjadi Presiden pertama Republik Indonesia, air ini diminum oleh Bill Klinten, Einstein, Habibie, Ibnu Sina, Aristotels, SBY, Jokowi, dan juga pak Peno.

Hari itu adalah Senin Manis, Februari 2002 di pasar Karang Kobar. terlihat di pojok pasar seorang tukang becak tengah mengelap velg roda becaknya yang kusam karena debu, di pundaknya nampak handuk putih kecil bergambar mickey mouse yang telah basah karena keringat. Wajahnya hitam karena terusik oleh tajamnya sinar matahari setiap hari. Betisnya terlihat besar dan kokoh menandakan ia seorang pekerja berat. Senyum simpul kadang terlihat ketika mendengar teman seprofesinya bercanda di sampingnya. Manis, manis sekali senyumnya. Senyum seorang pria yang tulus tanpa beban penderitaan sedikitpun. Jika boleh aku membandingkanya “ mungkin seperti inilah senyum para calon penghuni surga ketika menerima buku catatan amalnya”.

“Pak antarkan saya ke terminal” pinta seorang ibu yang tengah membawa belanjaanya.

Pak Agus segera menyambut barang belanjaan ibu tadi dan menaruhnya di becak, kemudian ibu itu masuk ke becaknya. Pak agus mulai mendorong becaknya sambil berlari kecil. setelah sekitar 10 m berlari kemudian ia meloncat ke jok becaknya khas seorang tukang becak. ketika bekerja ia selalu semangat mengontel pedal andalan. 

“udah sampai Bu”.
“makasih, berapa pak?”.
“dua ribu aja Bu”.

Begitulah keseharianya membantu membawakan barang belanjaan siapapun yang membutuhkan jasanya tanpa membedakan nama, tampang, kepribadian, jabatan, gelar akademik, status sosial, ataupun asal daerah. 

Masih di pasar Karang Kobar yang ramai oleh penjual dan pembeli. Ada penjual sandal, sprei, baju, cangkul, mainan anak, sayuran, jamu, ikan, telur, bakso, soto, tape, ketan, tiwul, bawang, berambang, cabe, dll. Mereka berdagang dengan penuh kesabaran dan toleransi antar sesama pedagang. Mereka  duduk bersama berderet khas pasar tradisional. Seluruh waktunya dihabiskan untuk menjajakan barang daganganya.

Ada hal unik yang selalu dimiliki oleh pasar. Sebuat aja ia si ahli silet, kemampuanya tak diragukan lagi, ia mampu melakukan pekerjaanya dengan sangat rapi tanpa diketahui orang, orang akan mengetahui ia bekerja ketika pekerjaanya telah selesai, mungkin karena ia tidak sombong, tidak mau memamerkan kehebatanya dalam bekerja, hehe...

           Namun sayang sekali pekerjaanya ini kadang membuat orang menjadi jengkel, marah-marah, dan ada pula yang menangis tersedu setelah melihat tas kesayanganya telah robek halus tersayat, dan setelah membuka tas ternyata tak tersisa lagi dompetnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar