Becapet
Pipt kecit
berkicau di pagi yang cerah, merdu mencuit diantara heningnya suasana desa,
bertengger mesra diatas ranting kecil yang rapuh, mata kecil bening menatap
tajam tanpa dosa, kaki lentik mencengkeram erat pada ranting penuh percaya diri.
Terbang
melayang tinggalkan sarang dalam peraduan, menyusuri awan putih menyongsong
masa depan, mencari secercah cahaya bening yang mungkin masih tersisa untuk si
kecil yang baru saja menginjak masa remaja. Mendengar di sebuah rawa ada suatu
celah yang dapat di singgahi untuk sekedar mengecap segarnya air murni yang
sejak dulu di impikan oleh semua orang, air suci minuman para dewa, air yang
dapat menjadikan orang tersenyum meskipun sedang gundah hatinya, menjadikan
orang menangis bahagia sekalipun telah lepas kuku dari jarinya, dan konon air
ini dapat mengabulkan semua cita-cita. Air ini telah diteguk oleh Soekarno
kecil yang pada masanya menjadi Presiden pertama Republik Indonesia, air ini
diminum oleh Bill Klinten, Einstein, Habibie, Ibnu Sina, Aristotels, SBY,
Jokowi, dan juga pak Peno.
Hari itu
adalah Senin Manis, Februari 2002 di pasar Karang Kobar. terlihat di pojok
pasar seorang tukang becak tengah mengelap velg roda becaknya yang kusam karena debu, di pundaknya nampak
handuk putih kecil bergambar mickey mouse yang telah basah karena keringat.
Wajahnya hitam karena terusik oleh tajamnya sinar matahari setiap hari.
Betisnya terlihat besar dan kokoh menandakan ia seorang pekerja berat. Senyum
simpul kadang terlihat ketika mendengar teman seprofesinya bercanda di
sampingnya. Manis, manis sekali senyumnya. Senyum seorang pria yang tulus tanpa
beban penderitaan sedikitpun. Jika boleh aku membandingkanya “ mungkin seperti
inilah senyum para calon penghuni surga ketika menerima buku catatan amalnya”.
“Pak antarkan
saya ke terminal” pinta seorang ibu yang tengah membawa belanjaanya.
Pak Agus
segera menyambut barang belanjaan ibu tadi dan menaruhnya di becak, kemudian
ibu itu masuk ke becaknya. Pak agus mulai mendorong becaknya sambil berlari
kecil. setelah sekitar 10 m berlari kemudian ia meloncat ke jok becaknya khas
seorang tukang becak. ketika bekerja ia selalu semangat mengontel pedal andalan.
“udah sampai
Bu”.
“makasih,
berapa pak?”.
“dua ribu aja
Bu”.
Begitulah
keseharianya membantu membawakan barang belanjaan siapapun yang membutuhkan
jasanya tanpa membedakan nama, tampang, kepribadian, jabatan, gelar akademik,
status sosial, ataupun asal daerah.
Masih di pasar
Karang Kobar yang ramai oleh penjual dan pembeli. Ada penjual sandal, sprei,
baju, cangkul, mainan anak, sayuran, jamu, ikan, telur, bakso, soto, tape,
ketan, tiwul, bawang, berambang, cabe, dll. Mereka berdagang dengan penuh
kesabaran dan toleransi antar sesama pedagang. Mereka duduk bersama berderet khas pasar tradisional.
Seluruh waktunya dihabiskan untuk menjajakan barang daganganya.
Ada hal unik
yang selalu dimiliki oleh pasar. Sebuat aja ia si ahli silet, kemampuanya tak diragukan lagi, ia mampu melakukan
pekerjaanya dengan sangat rapi tanpa diketahui orang, orang akan mengetahui ia
bekerja ketika pekerjaanya telah selesai, mungkin karena ia tidak sombong,
tidak mau memamerkan kehebatanya dalam bekerja, hehe...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar