group

group

Jumat, 06 Agustus 2021

Pandhawa Lima

 

Padhawa Lima

                 Pandhawa lima iku putrane Prabu Pandhudhewanata, ratu ing Hastinapura. Minangka pambareping pandhawa yaiku Raden Yudhistira utawa Prabu Puntadewa, lajeng Raden Bratasena utawa Raden Werkudara, Janaka utawa Arjuna, lan si kembar Raden Nakula lan Raden Sadewa. Prabu Pandhudhewanata seda nalika Pandhawa isih cilik-cilik. Kang gumanti ratu yaiku uwake para Pandhawa, Prabu Dhestrarastra. Wiwit sedane ramane, uripe para Pandhawa iki rekasa banget amarga disiya-siya dening para Kurawa cacah satus, Putrane Prabu Dhestrarastra. Kurawa watake degsiya, sawenang-wenang, ambeg angkara murka, lan srakah banget. Karepe, Kamulyan Kraton Ngastina arep dikuwasai dhewe.

                  Pandhawa lima iku satriya kang welas asih lan sabar banget. Apa maneh marang Kurawa, nak dulure. Ananging koksok baline, panganggepe Kurawa marang Pandhawa iku ora kaya sedulur tunggal mbah, nanging dianggep mungsuh. Kurawa kuwatir menawa Pandhawa bakal njaluk baline kaprabon Hastinapura, mula tansah mbudi daya sirnane Pandhawa. Dene carane nyilakakake Pandhawa kanthi diracun panganane, diobong urip-uripan, nganti diusir saka kraton. Ananging para Pandhawa tetep sabar, gedhe welase, lan gedhe pangapurane marang kurawa. Para pandhawa milih ngalah karo sedulure.

            Watake Para kurawa kang degsiya, lan sawenang-wenang marang Pandhawa iku ndadekake Kurawa digethingi dening para kawula. Dene watake para Pandhawa kang sabar, welas asih, lan tresna marang sapadha-padha iku ndadekake para Pandhawa ditresnani dening kawula.  Akeh kawula kang lila legawa atur pambiyantu marang para Pandhawa. Wusanane, para Pandhawa kasil mbangun kraton dhewe ing Amarta. Raden Yudhistira madeg ratu jejuluk Prabu Puntadewa. Para Pandhawa kasil nggayuh kamulyane urip. Dene para Kurawa pungkasane kalah perang lan mati kabeh ing perang Baratayudha.

Selasa, 02 Maret 2021

Sukses Tes CPNS

         Menjadi Pegawai Negeri Sipil adalah cita-cita banyak orang d Indonesia. Berbagai alasan juga melatar belakangi keinginan tersebut. Gaji tetap menjadi alasan mayoritas. Sebagain lagi ingin nyaman dalam bekerja tanpa menanggung resiko perpanjangan dan pemberhentian kontrak. Untuk menghadapi persaingan seleksi CPNS yang sangat ketat kiranya perlu persiapan yang matang juga. Belajar adalah hal pokok yang harus dilakukan. Perlu kita ingat bahwa tes CPNS dibagi dalam dua tahap yaitu Seleksi Kompetensi Dasar dan Seleksi Kompetensi Bidang. 

        Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) ini dilakukan secara Computter Assist Test (CAT). Muatan materi tes SKD ini ada tiga yaitu Tes Wawasan Kebangsaan, Tes Inteligensi Umum, dan Tes Kompetensi Pribadi. ketiga bidang ini harus lulus Passing Grade atau nilai ambang bawah. Menjadi sia-sia bila kite memiliki nilai total yang tinggi namun ada satu bidang yang tidak lulus. Maka untuk melewati seleksi ini kita harup benar-benar mempersiapkannya dengan baik. Perbanyaklah membaca buku yang bertemakan dasar negara,kenegaraan, sejarah, bahasa, kebudayaan, toleransi, HAM, manajerial, Strategi pemasaran, kepemimpinan, dan juga membaca berita kekinian yang sedang menjadi perbincangan publik.

        Seleksi Kompetensi Bidang (SKB). Masing-masing instansi memiliki standarnya. maka seleksi kompetensi bidang ini juga mengacu pada standar yang ditetapkan oleh instansi yang menyelenggarakan. CPNS guru tentunya akan bermuatan empat kompetensi (Paedagogik, Pribadi, Sosial, dan Profesional). Bidang kesehatan, pertanian, kelautan, perhubungan, hukum, dan lain sebagainya juga memiliki standarnya. Bagi pelamar CPNS guru maka akan mengikuti tes SKB dalam bentuk CAT, namun untuk beberapa instansi menggunakan metode wawancara. Ini kembali lagi pada kebijakan instansi yang menyelenggarakan seleksi.

        Data dan dokumen pribadi. NIK dan Nomer Kartu Keluarga harus pada posisi sinkron pada pangkalan data nasional, jangan sampai NIK dan nomor KK kita tidak terdeteksi oleh sistem pendaftaran. untuk memastikannya kita dapat menghubungi kantor catatan sipil (capil) di tempat kita terdata. 

        Dokumen akademik, Ijazah, Sertifikat Profesi, perlu disiapkan foto kopi yang sudah dilegalisasi. persiapkan dengan matang semuanya dari awal, terutama yang jauh dari kampus tempat kita belajar. Pastikan tanda tangan orang yang memberikan legalisasi adalah goresan tinta asli bukan cap/stempel tanda tangan. 

    Pada akhirnya sebagai manusia kita pasrahkan segala upaya dan kerja keras kepada Tuhan YME. Kiranya Allah mengabulkan do'a dan harapan kita.

Selasa, 02 Juni 2020

New Normal

New Normal

Selama sepekan ini masyarakat gencar sekali membicarakan masalah New Normal. Diawali dari rencana pemerintah untuk perlahan menghidupkan kembali aktivitas sosial dan ekonomi. Terjadi perdebatan panjang dari berbagai pihak. Masyarakat yang setuju menganggap ini adalah sebuah langkah yang tepat ditengah krisis yang membelit. Masyarakat menengah kebawah banyak yang tidak dapat lagi melakukan aktivitas ekonomi sejak masa PSBB diberlakukan. Lain sisi bagi yang tidak setuju pemberlakuan New Normal. Anggapan bahwa dampak covid-19 masih terus mengancam. Penambahan jumlah pasien Covid-19 setiap harinya.

Selasa, 03 September 2019

Kenaikan BPJS

Rencana kenaikan iuran BPJS menjadi isu yang hangat di kalangan masyarakat. Bukan tanpa sebab, pemerintah rencananya  akan menikan iuran BPJS sebesar -+ 100%. Pro-kontra bermunculan. Bagi Pengelola dan pemerintah mungkin ini solusi cepat untuk menutup defisit yang membelit Badan Penyelenggara Jaminan Sosial ini. Di sisi lain, masyarakat yang menjadi peserta merasa keberatan dengan kenaikan ini, 100% dinilai tidak wajar dan sangat memberatkan. Masyarakat berharap ada solusi cerdas baik dari pengelola maupun pemerintah. Menaikkan iuran hanya dianggap jalan pintas.

Nenek dan Kakek


Nenek dan Kakek Martono

Entah hari apa Engkau lahir
Entah Jam berapa Engkau pertama kali melihat dunia
tak satupun diantara mereka yang tahu persisnya kapan mereka dilahirkan. keterbatasan pengetahuan dan akses pendidikan membuat orang seusianya tidak memiliki catatan kelahiran.
yang jelas saat ini beliau telah memiliki banyak cucu dan buyut. wajar saja, ibuku yang anak kedua saja sudah berusia 46 tahun. sementara kaka dari ibuku sekira 50 Tahun. keduanya lahir dari pernikahan kedua mereka. Sebelumnya kakek dan nenekku sama-sama sudah pernah menikah, namun tidak memiliki anak dari pernikahan pertamanya.
Aku sangat menyayangi mereka. Selalu ada rindu yang membekap saat jarak memisahkan. Ingin rasanya segera bertemu, duduk bersama, minum teh pahit tanpa gula, nonton tivi, dan tidur satu amben. 

Sabtu, 22 Juli 2017

Musyawarah Akbar

Musyawarah Akbar

Waktu itu aku masih berusia sembilan tahun ketika ibu menawari untuk melaksanakan khitan. Khitan atau yang biasa disebut sunat atau sepit dalam bahasa lokal kami umumnya dilakukan saat seorang anak laki-laki memasuki usia sembilan sampai sepuluh tahun, walaupun sebagian juga melakukan pada usia dua belas tahun. Menurut kepercayaan orang jawa bahwa usia ini sangat cocok untuk melaksanakan khitan. Jika terlalu muda/kurang dari sembilan tahun maka dipercaya oleh mereka akan mengalami perlambatan dalam tumbuh kembang seorang anak. Kunjeng.
Pawon/dapur menjadi tempat kami biasa membicarakan permasalahan sehari-hari disamping fungsi utamanya sebagai ruang memasak bagi ibu-ibu di kampung kami. Malam itu kami sekeluarga berkumpul di pawon untuk membahas rencana acara khitanku. Aku sendiri masih belum yakin dengan keputusan itu. Aku masih belum siap melaksanakan khitan. Usiaku yang baru Sembilan tahun yang kala itu masih duduk di bangku kelas empat SD sempat membuat aku ragu.
“usiamu sudah cukup”, kata ibu menasihatiku. “kita masih punya dua sapi yang dapat dijual sebagai modal melaksanakan acara”, lanjut ibu menjelaskan.
Keadaan keluarga pada saat itu memang sedang baik, di kandang belakang rumah persis terdapat dua sapi, beberapa ekor kambing, dan ayam. Selain ternak yang menjadi tumpuan utama keluarga di kandang juga ada beberapa ekor marmut peliharaanku. Sebagai petani di kampung apabila memiliki ternak peliharaan maka sangat membantu untuk menopang kebutuhan. Khususnya kebutuhan yang menelan biaya besar. Aku masih ingat dua sapi di kandang berwarna putih bersih bermata jernih, bertanduk jagrak di kedua sisi kepala, serta ekor panjang yang lebat di bagian ujungnya. Kaki-kakinya kokoh menopang badan yang gemuk seberat 500 pon. Bagian pantatnya sintal layaknya karung yang sarat akan beras barito. Sapi itu menjadi bersih karena dirawat dengan baik, kandangnya diberi geladak dari bambu betung yang kuat dan memiliki diameter paling besar diantara bambu lainnya. Tempat makanannya biasa disebut makanan terbuat dari papan kayu nangka yang telah nggalih kuning karena usianya yang matang. Palang-palang pembatas (palon) terbuat dari bambu tali yang kuat dan lentur dimaksudkan agar tidak mudah patah apabila disandari oleh sapi yang tak kecil itu. Untuk pengikat pada palon, sapi dipasangkan dua utas tali tambang yang terbuat dari jalinan benang yang sangat kuat dan lentur, tali ini dapat bertahan selama setahun mulai dari awal sapi dibeli sampai pada saat sapi dijual.
Api masih berkobar merah membara memakan kayu kaliandra kering dalam tungku. Masing-masing kami mengitari api, duduk di atas jengkok sambil memeluk lutut. Duduk khas penduduk desa di pegunungan. Di samping kami ada meja berukuran 50 X 120 cm. diatasnya terdapat singkong rebus dan air teh hangat sebagai hidangan teman ngobrol. Keputusan belum juga didapat walaupun sudah banyak yang dipertimbangkan oleh anggota keluarga. Aku masih kekeh untuk tidak khitan dalam waktu dekat.
Ibu kembali merayu, “nak, usiamu sekarang sudah sembilan tahun, kamu sudah cocok untuk melaksanakan khitan, ibu dan bapak masih kuat membiayai hajatan. Coba kamu lihat teman-teman kamu, mereka banyak yang sudah khitan, apa kamu tidak iri melihat mereka?”. Ibu terus berbicara padaku dengan suara lembutnya. “pamanmu juga tak lama lagi pasti akan menikah, padaal kamu tahu bahwa biaya pernikahan itu tidak sedikait. Kalau kamu sunat sekarang maka kami punya waktu untuk mempersiapkan biaya pernikahannya. Kami akan kerepotan jika nantinya acara khitan kamu berdekatan dengan acara pernikahan paman kamu. Maka dari itu, ibu sangat berharap agar kamu mau sepit “.

Dengan berat hati akhirnya aku mengiyakan permintaan ibu. Semua orang yang berkumpul terseyum gembira. Teh hangat segera dituang dari teko, kami semua minum dan makan singkong rebus yang sedari tadi telah tersedia.

Rabu, 14 Juni 2017

Pelita Negeri

Pelita Negeri

Terbangun ku di penghujung malam
Lamat-lamat coba kubuka mata
Gulita berkuasa atas segala yang ada
Tiada merah tiada jingga

          Hingga pada suatu waktu
          Di sela dinding gedheg bambu
         Terpancar jelas seberkas cahaya
         Menerobos tajam menembus gelap
         Beri  harapan kedua mata


Saat detik berganti pagi
Cahaya itu semakin nyata
Memancar luas keseluruh sudut negeri
Terangi jiwa yang tlah lama dahaga

       Ingin rasanya mengungkap segala rahasia
       Padamu wahai anak manusia
       Selayaknya kau bakti tundukan rasa
       Pada pahlawan tanpa tanda jasa