RR “Rindu Ramadhan”
Malam ini, malam kedua bulan Ramadhan 1437 H. Tidak ada yang special
dari malam-malam Ramadham tahun sebelumnya, yang membedakan hanyalah saat ini
aku jauh di seberang, tiada sanak kerabat dan family, hanya langit cerah
berhiaskan bintang yang menemani. Baskom biru bergaris itu seakan mengabaikanku
sembari melirik malas diatas meja, sementara di ujung lantai nampak seonggok
puing bekas banjir yang hingga kini tiada arah berjalanya. Dan aku? Masih saja
aku termangu diatas kursi besi berlapiskan busa tipis dibalut dengan kulit
hitam, ya.. Warna hitam itu membuat malam serasa makin pekat.
Lovy, ini adalah ramadhan ketiga sejak kita bertemu, namun kali ini
terasa begitu berat, aku tak dapat melihatmu, bahkan untuk mengingat wajahmu
pun terasa sangat sulit, aku rindu berjumpa denganmu, ingin rasanya aku
memandang sungingan senyum yang menghiasi wajah sayu, alismu yang melengkung
lebat diatas kedua bola mata yang bening nan memancarkan sorot tajam
namun sayup-sayup ketika semilir angin menyapa membuat jantung ini
seakan berhenti sejenak untuk berdetak.
Kau, adalah ciptaan Tuhan yang teristimewa diantara jutaan permata yang tersebar di seluruh negeri. Kau
lebih bening dari Kristal glass, kau lebih menawan dari giok aceh, pesonamu tak
tertandingi walau bacan sekalipun, aku tak mampu memalingkan mataku walau
sedikitpun saat kau berada di dekatku,
hati ini serasa terpatri pada sosok ayu yang jauh disana.
Vy,,,,lovy, mungkinkah kamu baik-baik disana? Apakah kamu masih suka
mengenakan kerudung tipis nan udik yang aku berikan dulu? Apakah kau masih
ingat saat kita berteduh sejenak dijalan
pulang itu? Dan masihkah kau ingat akan rencana besar kita? Saat itu kau bilang
akulah yang pertama dan terbaik bagimu, kau bilang bahwa kau merasa nyaman saat
berada disisku. kau hamparkan sejuta harapan untuk kita hidup bersama dalam
segala keadaan, susah senang kita jalani tanpa air mata. Semoga saja semuanya
masih seperti itu.
Ketahuilah permata hatiku, bahwa aku baik-baik saja disini, aku sehat
selalu, apakah kamu tahu? Suatu hari saat jam istirahat dari pekerjaanku tiba, aku
melihat sebuah timbangan tergeletak di samping lemari kantor, langsung saja
instingku tertuju pada jarum merah yang bergoyang ketika timabngan itu di
injak. benar saja setelah kunaikan kedua kakiku dan kuletakan segala beban
tubuhka, jarum itu berlari kencang, seakan mau terhempas dari porosnya, haha...
aku samapi kaget dibuatnya, ternyata aku tidak kurus lagi, tubuhku yang dulu
tak pernah beranjak dari 53 kg sekarang beratku telah naik 9 kg, hehe.
Kaus tipis bergambar andhong oleh-olehmu dari Jogja itu masih tetap
kusimpan, meskipun jarang kusentuh dan kupakai, maklum saja sekarang aku kan sudah
tidak muat lagi, mungkin ini yang sering orang bilang bobot tubuh over. Meskipun begitu tenang aja,
aku tetap ganteng seperti yang dulu, hehehe......
Ow iya samapi lupa, aku puasa hari pertama full lho, gak seperti saat
kelas satu SD dulu yang mokah ketia dzuhur tiba, tadi aku buka puasa saat adzan
sudah berkumandang, kubatalkan puasaku
segera dengan seteguk teh hangat buatanku sendiri, ditemani tempe goreng yang
masih hangat, lalu kulanjutkan makan nasi putih lauknya sayur kangkung, yah
dasar nasib perantau seklai lagi tempe goreng itu kusambar dari tempatnya untuk
menemani sayur kangkung yang sudah bercampur dengan nasi putih didalam piring. Sesekali
kucolek sambal bawang yang masih teronggok diatas lemper batu hitam buatan suku
Dayak Benuaq.
Tarawih pertamakau hanya dengan teman-teman sesama perantau di Masjid
Ar-Rahman kampung Besiq-Bermai. Pesertanya tak lebih dari hitungan jari, hal
sangat berbeda ketika kita shalat dulu di Masjid Agung Jawa Tengah. Saat itu
disana ada ribuan orang bersama kita shalat di masjid yang sama. Namun, semua
itu kini tinggal kenangan, hanya kadang terlintas di ingatan, biarlah itu
menjadi kisah menarik untuk diceritakan pada anak cucu kita nantinya. Kulanjutkan
lagi aja yah tentang shalat tarawihnya, seperti sudah menjadi tugas abadiku,
disini aku juga menjadi bilal atau pembantu imam, aku memberi aba-aba di setiap
akan naik shalat tarawih, dan jamaah-pun segera melaksanakanya. Saat itu jumlah
rakaatnya baru saja disepakati setelah shalat isya selesai, kami berdiskusi
tentang jumlah rakaat shalat tarawaih, setelah mendengar berbagai usulan dan
mempertimbangkan banyak hal, akhirnya kami menyepakati untuk melaksanakan
shalat tarawih 8 rakaat kemudian ditambah shalat witir 3 rakaat. Tahiyat demi
tahiyat berganti hingga akhirnya shalat tarawih selesai, kemudian imam membaca
do’a, setelah selesai membaca do’a imam menoleh kearahku seakan memberi kode,
akupun mengangguk dan mengacungkan tiga jari kearanya untuk memberi kode bahwa
aku paham ini saatnya shalat witir, aku bacakan komando shalat witir tiga
kali.......,,,, imam berdiri sambil menoleh dan menatapku, “apa yang salah?”
Batinku. Imam bilang “ kita, dua-satu” owh, baru aku paham bahwa yang
dikehendaki imam adalah shalat witir dibagi menjadi dua salam, yaitu dua rakaat
pertama satu salam, kemudian dilanjutkan dengan satu rakaat terakhir satu salam. Wah kacau ini batinku, antara bilal dengan imam kurang sinkron, malu nian
dengan jama’ah. Tapi tak apa lah, toh ini hari pertama, dapat dibenahi pada
malam berikutnya.