group

group

Senin, 13 Juni 2016

Layang Kangen



Sendawar, 31 Desember 2015
Teruntuk: Lovy Hestriana, “wanita  Terindah Pemimpin  Barisan Bidadari Syurga”

Assalamu’alaikum Wr Wb.
Saat kamu baca surat ini, mungkin aku tengah berada di dalam hutan pedalaman Kalimantan, sebuah tempat antah berantah yang hanya dapat dijangkau menggunakan ketinting (perahu kecil bermesin tempel) menelusuri aliran sungai Kedang Pahu di hulu sungai Mahakam yang terkenal seantero negeri. Agar kamu tahu bahwa aku disini dalam keadaan baik dan sehat. Kalau urusan makanan disini tidak kekurangan, asalkan kita mau memakan apa yang dihasilkan oleh bumi Kalimanatan, segala macam sayur dapat tumbuh dengan baik disini, seperti pakis, umbut, jamur, daun singkong, dan daun katuk. Selain sayur. kalau mau lauk pauk, kita tinggal turun sebentar ke sungai membawa pancing, maka ikan Baong segera menyambar umpan yang kita pasang. Selain sayur dan ikan disini juga melimpah berbagai jenis buah-buahan, mungkin kamu pernah mendengar yang namanya buah Durian, Asam, Mangga, dan Belimbing, namun kamu pasti belum pernah melihat yang namanya buah lays yang dagingnya berwarna merah, berkulit tebal dan digemari karena rasanya yang manis, kemudian buah Layukng, bentuknya seperti durian, tetapi durinya panjang layaknya rambutan jumbo. Jika kamu ingin merasakanya kamu harus datang sendiri kesini karena buah ini hanya ada di hutan Kalimantan, itu pun hanya ada saat musim buah datang.
Ow iya,,, Aku sampai lupa, bagaimana keadaanmu disana? Tentunya sehat bukan? Kamu masih menghafal surat An-Najm? Sudah hafal berapa ayat?
Masih ingat cerita tentang kaum Anshar dan Muhajirin di zaman Rasulullah? Ketika itu disana belum ada masjid sehingga Rasulullah membangun sebuah masjid yang dikenal dengan Masjid Nabawi. Hampir seperti itu keadaanku disini, kampung tempatku mengabdi belum memiliki masjid, sehingga aku dan warga sekitar berupaya keras membangun masjid, mulai dari meminta izin pendirian, mencari lokasi, mencari bahan bangunan, sampai mengumpulkan dana, itu semua sangat menguras tenaga. Bahkan sampai tiga kali kami memindahkan lokasi pendirian masjid, itu semua karena masih adanya penolakan dari warga sekitar yang mayoritas beragama Nasrani. Hingga pada akhirnya berdirilah sebuah masjid sederhana, berlantai peranggok berdinding kayu di tempat yang jauh dari permukiman warga.
@@@@
Lov, jangan ngantuk dan bosan dulu ya baca tulisanku, tinggal beberapa baris lagi akan selesai, aku ingin menyampaikan sesuatu yang sangat penting, bagi aku dan bagimu.
Dulu saat pertama aku datang kerumahmu, aku belum tahu siapa kamu, aku belum tahu wajah kamu, aku belum pernah mendengar suaramu, aku belum melihat senyum manismu, aku belum tahu keadaan keluargamu, dan aku tidak tahu mengapa aku bisa sampai kerumahmu, entah angin apa yang menuntunku hingga aku sampai disana. Mungkin jawabanya cuma satu ini “aku ingin mengenalmu ditempat yang baik, dan disaksikan orang yang baik”. Maka aku memutuskan untuk menemuimu dirumah tempat tinggal kamu dan orang tuamu, harapanya adalah agar saat kita berkenalan nanti ada orang yang mengawasi kita, ada orang baik di sisi kita, dan benarlah apa yang aku harapkan kita berkenalan dirumahmu, disekitar orang tuamu.
Meskipun aku bukanlah lelaki yang baik sebaik Ali yang memperistri Fatimah, namun harapanku semoga cintaku adalah sebuah cinta yang murni, yang tak mengejar gemerlap duniawi, yang tak hanya mengejar hasrat biologis saja, yang tak mengejar kesempurnaan ragawi semata, dan bukan roman picisan tentunya.
Sayang, pernahkah kamu melihat gunung Semeru di Jawa Timur? Yang puncaknya dinamakan Mahameru? Gunung tertinggi di Pulau Jawa? Lebih besar dan tinggi dari itu cintaku padamu, bahkan Himalaya sekalipun takan mampu menandinginya. yang jelas aku sangat mencintaimu, namun ada sesuatu yang membuatku harus menulis surat ini. Akhir-akhir ini aku gelisah jika memikirkan cinta kita, ada getaran dahsyat yang mampu membuat aku tidak enak makan, membuat aku gelisah saat tidur. Rasanya ada yang berbeda dengan detak jantung ini, getaran yang aku sendiri tak tahu darimana datangnya. Apakah aku mencitai wanita lain? Mungkinkah aku mencintai gadis Dayak yang terkenal cantik dan berkulit putih, yang katanya keturunan Ras Mongoloid itu? Benarkah akau terkena pelet yang dijampi-jampikan oleh dukun Dayak Benuaq yang kondang kesaktianya? Atau jangan-jangan aku kepohonan, kejadian buruk yang menimpa manusia karena Ia melanggar pantangan adat. Apakah aku perlu mengadakan upacara Beliatn agar roh jahat yang merasuki tubuhku cepat keluar?” pikiranku jadi membrunyah.
Namun sejuta pertanyaan itu jika kupikirkan lebih jauh sepertinya tidak akan terjawab, karena getaranya tak sebatas itu, yang aku rasakan bahwa getaran itu mampu menggerakan aku kepada sesuatu yang positif, dan menjauhi hal-hal negatif. Dan aku semakin yakin bahwa getaran itu adalah getaran cinta, tapi cinta kepada siapa? Aku semakin bertanya-tanya.
Suatu ketika aku shalat di masjid, setelah selesai aku berfikir keras akan hal itu di serambi, apa yang sebenarnya terjadi pada diriku? Apakah Allah sedang menarik kebahagiaan dari diriku, kemudian menggantikanya dengan keresahan dan kegelisahan?
Baru setelah lama berpikir akhirnya aku mendapatkan jawabanya, bahwa ternyata ada Maha Cinta yang hadir dalam kehidupanku, benih cinta yang dulu aku tabur, dan aku tidak sempat merawatnya kini telah tumbuh menjadi besar. Cinta Allah menghampiriku, pantas saja aku tak kuasa menahanya, karena waktu aku kecil dulu ketika belajar mengaji aku memiliki rasa yang tak mampu aku ungkapkan, dan rupanya ini yang menghampiriku saat ini. Cintaku kepada Allah melebihi segalanya.
Lov, semakin aku mendambamu, merayumu, menggombal pada kamu maka semakin jauh aku dari jiwaku yang senantiasa ingin dekat dengan Allah, namun hal sebaliknya justru terjadi, semakin aku mencintai Allah maka cintaku padamu menjadi semakin murni. Aku mampu memandang bahwa rasa yang ada pada kita hanyalah pantulan dari cinta yang dipancarkan oleh Maha Cinta. Maka dari itu aku mohon maaf bila akhir-akhir ini aku menjauh darimu, aku tak pernah menelephonmu, aku tak pernah mau berbicara padamu, itu semua aku lakukan semata untuk memupuk rasa cintaku yang lama sudah aku tinggalkan. Aku menjaga cintaku kepada Allah, berarti aku menjaga cinta Allah kepadaku. Seperti kita tahu bersama bahwa Allah dekat dengan kita saat kita mendekat kepadanya.
Ketika kita berpikir secara pendek maka akan terlihat bahwa aku menjauh darimu karena aku bosan kepadamu atau bahkan aku membencimu, wajar jika kamu berpikir demikian, namun semuanya tidaklah seperti itu, jika aku boleh menjelaskan aku ingin mengatakan ini jujur dari dalam sanubariku.
Hari itu, Rabu siang dibulan Ramadhan, matahari tampak redup bersembunyi dibalik awan tipis kota Banjarnegara. Jalanan tak seperti yang biasanya padat oleh kendaraan. Kala itu hanya beberapa sepeda motor yang sesekali melintas di jalan Dipayudha. Tetes air dari langit perlahan jatuh diatas sarung tangan hitam bergaris cokelat. Dinginya angin mulai terasa menembus jaket. Tak lama berselang air hujan turun begitu derasnya, seketika jalanan menjadi basah dan terlihat hitam mengkilat. Kakek tua berambut putih berlari kecil menuju emperan warung bakso sembari menenteng sandal jepitnya di tangan kiri, sementara tangan kananya dipakai menutup keningnya, tampak juga sepasang muda-mudi berteduh dibawah pohon Palm yang menjulang tinggi untuk memasang mantel jas hujan, di ujung gang disamping rumah bercat hijau tampak seekor anak ayam berputar-putar didepan pintu mungkin pitik itu sedang mencari induknya yang kabur bersama ayam jago ke ladang padi.
Lov, aku ingin mengatakan suatu hal kepadamu, aku ingin berkata jujur dari dalam sanubari ini. Lov, Aku ingin kita mengakhiri hubungan tanpa setatus ini, aku tak ingin membawamu semakin dalam ke lembah kemaksiatan, aku takut kamu akan semakin jauh dari kasih sayang Allah, Dzat yang maha Kasih, dan sumber segala rasa sayang yang pernah ada ini.
Jangan menangis ya, sekali lagi aku minta maaf, untuk satu tahun kedepan ini mungkin aku tak akan menelefonmu, tak akan mengirim SMS pada kamu lagi, kecuali ada hal genting yang mengharuskanya. Namun jangan menangis dulu, aku ingin bertanya padamu, maukah kamu mengatakan pada ayahmu, “bahwa ada seorang pemuda yang akan datang kepadamu suatu hari nanti, yang akan meminangmu, yang akan membawamu dalam sebuah ikatan suci, yang pada hari tiu akan ada penyerahan mahar sejati, yaitu ikatan pernikahan dua orang anak manusia di hadappan dua saksi. Bicaralah baik-baik kepada ayah dan ibumu, semoga mereka merestui hubungan kita. Dan semoga kamu rela menantikan aku menyelesaikan tugas mulia ini untuk Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia.

Wassalamu’alaikum Wr Wb

Aku yang Mencintaimu


Gendis Suprayitno, S.Pd

Tidak ada komentar:

Posting Komentar