group

group

Senin, 13 Juni 2016

Rindu Ramadhan 1437 H



RR “Rindu Ramadhan”

Malam ini, malam kedua bulan Ramadhan 1437 H. Tidak ada yang special dari malam-malam Ramadham tahun sebelumnya, yang membedakan hanyalah saat ini aku jauh di seberang, tiada sanak kerabat dan family, hanya langit cerah berhiaskan bintang yang menemani. Baskom biru bergaris itu seakan mengabaikanku sembari melirik malas diatas meja, sementara di ujung lantai nampak seonggok puing bekas banjir yang hingga kini tiada arah berjalanya. Dan aku? Masih saja aku termangu diatas kursi besi berlapiskan busa tipis dibalut dengan kulit hitam, ya.. Warna hitam itu membuat malam serasa makin pekat.
Lovy, ini adalah ramadhan ketiga sejak kita bertemu, namun kali ini terasa begitu berat, aku tak dapat melihatmu, bahkan untuk mengingat wajahmu pun terasa sangat sulit, aku rindu berjumpa denganmu, ingin rasanya aku memandang sungingan senyum yang menghiasi wajah sayu, alismu yang melengkung lebat diatas kedua bola mata yang bening nan memancarkan sorot  tajam  namun sayup-sayup ketika semilir angin menyapa membuat jantung ini seakan berhenti sejenak untuk berdetak.
Kau, adalah ciptaan Tuhan yang teristimewa diantara jutaan  permata yang tersebar di seluruh negeri. Kau lebih bening dari Kristal glass, kau lebih menawan dari giok aceh, pesonamu tak tertandingi walau bacan sekalipun, aku tak mampu memalingkan mataku walau sedikitpun saat kau berada di dekatku,  hati ini serasa terpatri pada sosok ayu yang jauh disana.
Vy,,,,lovy, mungkinkah kamu baik-baik disana? Apakah kamu masih suka mengenakan kerudung tipis nan udik yang aku berikan dulu? Apakah kau masih ingat saat kita  berteduh sejenak dijalan pulang itu? Dan masihkah kau ingat akan rencana besar kita? Saat itu kau bilang akulah yang pertama dan terbaik bagimu, kau bilang bahwa kau merasa nyaman saat berada disisku. kau hamparkan sejuta harapan untuk kita hidup bersama dalam segala keadaan, susah senang kita jalani tanpa air mata. Semoga saja semuanya masih seperti itu.
Ketahuilah permata hatiku, bahwa aku baik-baik saja disini, aku sehat selalu, apakah kamu tahu? Suatu hari saat jam istirahat dari pekerjaanku tiba, aku melihat sebuah timbangan tergeletak di samping lemari kantor, langsung saja instingku tertuju pada jarum merah yang bergoyang ketika timabngan itu di injak. benar saja setelah kunaikan kedua kakiku dan kuletakan segala beban tubuhka, jarum itu berlari kencang, seakan mau terhempas dari porosnya, haha... aku samapi kaget dibuatnya, ternyata aku tidak kurus lagi, tubuhku yang dulu tak pernah beranjak dari 53 kg sekarang beratku telah naik 9 kg, hehe.
Kaus tipis bergambar andhong oleh-olehmu dari Jogja itu masih tetap kusimpan, meskipun jarang kusentuh dan kupakai, maklum saja sekarang aku kan sudah tidak muat lagi, mungkin ini yang sering orang bilang  bobot tubuh over. Meskipun begitu tenang aja, aku tetap ganteng seperti yang dulu, hehehe......
Ow iya samapi lupa, aku puasa hari pertama full lho, gak seperti saat kelas satu SD dulu yang mokah ketia dzuhur tiba, tadi aku buka puasa saat adzan sudah berkumandang, kubatalkan  puasaku segera dengan seteguk teh hangat buatanku sendiri, ditemani tempe goreng yang masih hangat, lalu kulanjutkan makan nasi putih lauknya sayur kangkung, yah dasar nasib perantau seklai lagi tempe goreng itu kusambar dari tempatnya untuk menemani sayur kangkung yang sudah bercampur dengan nasi putih didalam piring. Sesekali kucolek sambal bawang yang masih teronggok diatas lemper batu hitam buatan suku Dayak Benuaq.
Tarawih pertamakau hanya dengan teman-teman sesama perantau di Masjid Ar-Rahman kampung Besiq-Bermai. Pesertanya tak lebih dari hitungan jari, hal sangat berbeda ketika kita shalat dulu di Masjid Agung Jawa Tengah. Saat itu disana ada ribuan orang bersama kita shalat di masjid yang sama. Namun, semua itu kini tinggal kenangan, hanya kadang terlintas di ingatan, biarlah itu menjadi kisah menarik untuk diceritakan pada anak cucu kita nantinya. Kulanjutkan lagi aja yah tentang shalat tarawihnya, seperti sudah menjadi tugas abadiku, disini aku juga menjadi bilal atau pembantu imam, aku memberi aba-aba di setiap akan naik shalat tarawih, dan jamaah-pun segera melaksanakanya. Saat itu jumlah rakaatnya baru saja disepakati setelah shalat isya selesai, kami berdiskusi tentang jumlah rakaat shalat tarawaih, setelah mendengar berbagai usulan dan mempertimbangkan banyak hal, akhirnya kami menyepakati untuk melaksanakan shalat tarawih 8 rakaat kemudian ditambah shalat witir 3 rakaat. Tahiyat demi tahiyat berganti hingga akhirnya shalat tarawih selesai, kemudian imam membaca do’a, setelah selesai membaca do’a imam menoleh kearahku seakan memberi kode, akupun mengangguk dan mengacungkan tiga jari kearanya untuk memberi kode bahwa aku paham ini saatnya shalat witir, aku bacakan komando shalat witir tiga kali.......,,,, imam berdiri sambil menoleh dan menatapku, “apa yang salah?” Batinku. Imam bilang “ kita, dua-satu” owh, baru aku paham bahwa yang dikehendaki imam adalah shalat witir dibagi menjadi dua salam, yaitu dua rakaat pertama satu salam, kemudian dilanjutkan dengan satu rakaat terakhir  satu salam. Wah kacau ini batinku, antara  bilal dengan imam kurang sinkron, malu nian dengan jama’ah. Tapi tak apa lah, toh ini hari pertama, dapat dibenahi pada malam berikutnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar