group

group

Kamis, 15 September 2016

Perangkat Desa Kalibombong Banjarnegara

                                                 (foto oleh Darmono)
 
(dalam foto: Kabul, Supriono, Maryono, Wanti, Dahlan, Sujono)
 
            Wanti, seorang kepala desa kalibombong. wanita ini menjabat sejak tahun 2014. dalam menjalankan tugasnya Beliau dibantu oleh beberapa perangkat desa lainnya. yang terdiri dari Kepala Urusan (kaur) Kesra, Kaur Pembangunan, Kaur Keuangan, dan Kaur Pemerintahan.

            Selama periode masa jabatannya Kades perempuan ini berupaya memberikan pelayanan terbaik terhadap masyarakat yang dipimpinnya. mulai dari pelayanan administrasi sampai pada pelayanan di bidang-bidang lain sesuai dengan tugas pokok dan fungsi yang diembannya. Wanti membawahi empat Kepala Dusun (kadus). Dusun Bandingan, Dusun Kalibombong, Dusun Margasari, dan Dusun Panumping.

           Meskipun seorang perempuan, Wanti bekerja dengan baik, tak kalah dengan Kades lainnya. hal ini dibuktikan dengan masifnya pembangunan fisik di Desa Kalibombong, mulai dari pembuatan irigasi, pengaspalan jalan, maupun pembuatan jalan lurung/gang.

          Kalibombong saat ini sangat berbeda keadaannya dengan keadaan desa sepuluh tahun yang lalu. setidaknya pada keberadaan air bersih yang hampir menjangkau setiap rumah tangga. Air memang masih dianggap bukan hal yang vital bagi swebagian warga. Maklum saja, sejak dahulu kala masyarakatDesa Kalibombong tek pernah sekalipun merasakan kekurangan air. Namun, kini setelah sumber air diambil oleh masyarakat desa lain barulah kesadaraan itu  muncul bahwa air bukanlah sesuatu yang remeh. Perlu adanya pengelolaan yang baik dan benar agar tidak mengalami kelangkaan suatu hari nanti.
       
       


Selasa, 12 Juli 2016

Gads Invisible

                            Gadis Invisible

Elang hitam terbang melayang diantara rimbun bambu dan alang-alang. terbesit sebuah tanya dalam hati, tentang kebesaran negeri yang indah nan permai. terkuak sebuah tutur dari lelaki tua bermata sipit. rambutnya yang telah putih menandakan usia yang tak lagi muda. suaranya pun tak lagi merdu bahkan jika disimak dengan seksama maka akan terdengar parau. kulitnya yang gosong terbakar matahari melambangkan kerja keras dan semangat yang tinggi.
Alunan kelentangan dan gendang Dayak masih saya terdengar meskipun waktu sudah beranjak dari pukul 11.00 WITA. para penari Beliatn belum juga tampak lelah meskipun mereka telah menari selama 12 malam berturut-turut. Tarian yang diperuntukan bagi penyembuhan orang sakit ini sudah tidak diketahui lagi awal mulanya, pewarisan yang melembaga secara tradisional membuatnya lestari hingga di era globalisasi sekarang ini. para penari ini adalah dukun dayak yang terkenal sakti.
Di iringi alunan kelentangan akupun meraba-raba tentang gadis invisible  bersuara merdu. Siapakah gerangan ini yang memiliki suara seindah alunan violin Sepanyol, lirih mendayu mengalunkan nada-nada yang terajut dalam sebuah simphoni, menggetarkan jiwa bagi siapapun yang mendengarnya. terlalu naïf bagi manusia biasa untuk tidak hanyut dalam dendang kidung yang menggema diantara dinding batu berhiaskan epifit hijau dan pakis kelabu.
benarkah sosok ini adalah Hanifah Dian S. yang lahir di Rembang 03 Mei 1991? ataukah seorang gadis yang tinggal di kampung Gunungsari Rt 01 Rw 04 Kaliori? ataukah anak bangsa yang telah membangun negeri melalui pendidikan formal di SDN 01 Gunungsari, SMPN 01 Rembang, dan SMAN 02 Rembang?. ah.... entahlah kataku, aku tak banyak tahu tentang dia,, terakhir yang aku tahu dia adalah aktivis pembebasan. selebihnya aku gak terlalu mengenalnya.
pernah suatu pagi pada bulan November 2010 aku memperhatikanya ketika ia ikut serta dalam agenda bulanan Senam bersama masyarakat di jalan bawah Indopermai. sesosok gadis cantik yang mampu mencuri perhatianku, sosok ceria yang tersembunyi dibalik wajah manis nan keibuan. masih ingat betul senyuman yang ia bagikan pada anak-anak yang ada di sekelilingnya. sebuah senyuman indah, seindah mawar yang merekah di ujung pagi.


Zamrud Katulistiwa

Zamrud Katulistiwa

kini telah tampak hitam kelam disudut meja
seonggok serbet diatas jengkok tua
menghamburkan aroma bak semangka di saat berbuka
sedap namun enggan untuk disantap
karna dialah sang penggoda yang tak berkitab

          diujung jauh sana tergantung dua anjat tanpa makna
          hasil karya tangan tunjung dan benuaq
          rotan dibelah raut dibuka
          pemuda tersenyum menatap jempolnya

                           tepat dibawah plapon kayu meranti
                           tergantung lampu tanpa nyala api
                           karena ialah sang bola mati
                           tiada arus tiada aki

          kebahagiaan ini telah lama dilalui
         hidup tenang tanpa apple dan blackberry
         tanpa Samsung dan Sony
         tanpa signal takan buat kita mati

             inilah kisah hidup sang guru
         di dalam zamrud katulistiwa
     alam yang subur di Mahakam tepi
bersarang buaya dan anaconda

perahu dikayuh dilepas tali
pertanda malam tlah berganti
si nyompe bergegas tinggalkan pondok
terjun ke teluk bersama sang kodok
pukat diangkat batu terikat
tanpa patin tanpa boyot
kendia kecil ramah menyapa
mengelus dada si anak desa


Kamis, 30 Juni 2016 pukul 22:13 WITA Kutai Barat

Senin, 13 Juni 2016

Rindu Ramadhan 1437 H



RR “Rindu Ramadhan”

Malam ini, malam kedua bulan Ramadhan 1437 H. Tidak ada yang special dari malam-malam Ramadham tahun sebelumnya, yang membedakan hanyalah saat ini aku jauh di seberang, tiada sanak kerabat dan family, hanya langit cerah berhiaskan bintang yang menemani. Baskom biru bergaris itu seakan mengabaikanku sembari melirik malas diatas meja, sementara di ujung lantai nampak seonggok puing bekas banjir yang hingga kini tiada arah berjalanya. Dan aku? Masih saja aku termangu diatas kursi besi berlapiskan busa tipis dibalut dengan kulit hitam, ya.. Warna hitam itu membuat malam serasa makin pekat.
Lovy, ini adalah ramadhan ketiga sejak kita bertemu, namun kali ini terasa begitu berat, aku tak dapat melihatmu, bahkan untuk mengingat wajahmu pun terasa sangat sulit, aku rindu berjumpa denganmu, ingin rasanya aku memandang sungingan senyum yang menghiasi wajah sayu, alismu yang melengkung lebat diatas kedua bola mata yang bening nan memancarkan sorot  tajam  namun sayup-sayup ketika semilir angin menyapa membuat jantung ini seakan berhenti sejenak untuk berdetak.
Kau, adalah ciptaan Tuhan yang teristimewa diantara jutaan  permata yang tersebar di seluruh negeri. Kau lebih bening dari Kristal glass, kau lebih menawan dari giok aceh, pesonamu tak tertandingi walau bacan sekalipun, aku tak mampu memalingkan mataku walau sedikitpun saat kau berada di dekatku,  hati ini serasa terpatri pada sosok ayu yang jauh disana.
Vy,,,,lovy, mungkinkah kamu baik-baik disana? Apakah kamu masih suka mengenakan kerudung tipis nan udik yang aku berikan dulu? Apakah kau masih ingat saat kita  berteduh sejenak dijalan pulang itu? Dan masihkah kau ingat akan rencana besar kita? Saat itu kau bilang akulah yang pertama dan terbaik bagimu, kau bilang bahwa kau merasa nyaman saat berada disisku. kau hamparkan sejuta harapan untuk kita hidup bersama dalam segala keadaan, susah senang kita jalani tanpa air mata. Semoga saja semuanya masih seperti itu.
Ketahuilah permata hatiku, bahwa aku baik-baik saja disini, aku sehat selalu, apakah kamu tahu? Suatu hari saat jam istirahat dari pekerjaanku tiba, aku melihat sebuah timbangan tergeletak di samping lemari kantor, langsung saja instingku tertuju pada jarum merah yang bergoyang ketika timabngan itu di injak. benar saja setelah kunaikan kedua kakiku dan kuletakan segala beban tubuhka, jarum itu berlari kencang, seakan mau terhempas dari porosnya, haha... aku samapi kaget dibuatnya, ternyata aku tidak kurus lagi, tubuhku yang dulu tak pernah beranjak dari 53 kg sekarang beratku telah naik 9 kg, hehe.
Kaus tipis bergambar andhong oleh-olehmu dari Jogja itu masih tetap kusimpan, meskipun jarang kusentuh dan kupakai, maklum saja sekarang aku kan sudah tidak muat lagi, mungkin ini yang sering orang bilang  bobot tubuh over. Meskipun begitu tenang aja, aku tetap ganteng seperti yang dulu, hehehe......
Ow iya samapi lupa, aku puasa hari pertama full lho, gak seperti saat kelas satu SD dulu yang mokah ketia dzuhur tiba, tadi aku buka puasa saat adzan sudah berkumandang, kubatalkan  puasaku segera dengan seteguk teh hangat buatanku sendiri, ditemani tempe goreng yang masih hangat, lalu kulanjutkan makan nasi putih lauknya sayur kangkung, yah dasar nasib perantau seklai lagi tempe goreng itu kusambar dari tempatnya untuk menemani sayur kangkung yang sudah bercampur dengan nasi putih didalam piring. Sesekali kucolek sambal bawang yang masih teronggok diatas lemper batu hitam buatan suku Dayak Benuaq.
Tarawih pertamakau hanya dengan teman-teman sesama perantau di Masjid Ar-Rahman kampung Besiq-Bermai. Pesertanya tak lebih dari hitungan jari, hal sangat berbeda ketika kita shalat dulu di Masjid Agung Jawa Tengah. Saat itu disana ada ribuan orang bersama kita shalat di masjid yang sama. Namun, semua itu kini tinggal kenangan, hanya kadang terlintas di ingatan, biarlah itu menjadi kisah menarik untuk diceritakan pada anak cucu kita nantinya. Kulanjutkan lagi aja yah tentang shalat tarawihnya, seperti sudah menjadi tugas abadiku, disini aku juga menjadi bilal atau pembantu imam, aku memberi aba-aba di setiap akan naik shalat tarawih, dan jamaah-pun segera melaksanakanya. Saat itu jumlah rakaatnya baru saja disepakati setelah shalat isya selesai, kami berdiskusi tentang jumlah rakaat shalat tarawaih, setelah mendengar berbagai usulan dan mempertimbangkan banyak hal, akhirnya kami menyepakati untuk melaksanakan shalat tarawih 8 rakaat kemudian ditambah shalat witir 3 rakaat. Tahiyat demi tahiyat berganti hingga akhirnya shalat tarawih selesai, kemudian imam membaca do’a, setelah selesai membaca do’a imam menoleh kearahku seakan memberi kode, akupun mengangguk dan mengacungkan tiga jari kearanya untuk memberi kode bahwa aku paham ini saatnya shalat witir, aku bacakan komando shalat witir tiga kali.......,,,, imam berdiri sambil menoleh dan menatapku, “apa yang salah?” Batinku. Imam bilang “ kita, dua-satu” owh, baru aku paham bahwa yang dikehendaki imam adalah shalat witir dibagi menjadi dua salam, yaitu dua rakaat pertama satu salam, kemudian dilanjutkan dengan satu rakaat terakhir  satu salam. Wah kacau ini batinku, antara  bilal dengan imam kurang sinkron, malu nian dengan jama’ah. Tapi tak apa lah, toh ini hari pertama, dapat dibenahi pada malam berikutnya.

Layang Kangen



Sendawar, 31 Desember 2015
Teruntuk: Lovy Hestriana, “wanita  Terindah Pemimpin  Barisan Bidadari Syurga”

Assalamu’alaikum Wr Wb.
Saat kamu baca surat ini, mungkin aku tengah berada di dalam hutan pedalaman Kalimantan, sebuah tempat antah berantah yang hanya dapat dijangkau menggunakan ketinting (perahu kecil bermesin tempel) menelusuri aliran sungai Kedang Pahu di hulu sungai Mahakam yang terkenal seantero negeri. Agar kamu tahu bahwa aku disini dalam keadaan baik dan sehat. Kalau urusan makanan disini tidak kekurangan, asalkan kita mau memakan apa yang dihasilkan oleh bumi Kalimanatan, segala macam sayur dapat tumbuh dengan baik disini, seperti pakis, umbut, jamur, daun singkong, dan daun katuk. Selain sayur. kalau mau lauk pauk, kita tinggal turun sebentar ke sungai membawa pancing, maka ikan Baong segera menyambar umpan yang kita pasang. Selain sayur dan ikan disini juga melimpah berbagai jenis buah-buahan, mungkin kamu pernah mendengar yang namanya buah Durian, Asam, Mangga, dan Belimbing, namun kamu pasti belum pernah melihat yang namanya buah lays yang dagingnya berwarna merah, berkulit tebal dan digemari karena rasanya yang manis, kemudian buah Layukng, bentuknya seperti durian, tetapi durinya panjang layaknya rambutan jumbo. Jika kamu ingin merasakanya kamu harus datang sendiri kesini karena buah ini hanya ada di hutan Kalimantan, itu pun hanya ada saat musim buah datang.
Ow iya,,, Aku sampai lupa, bagaimana keadaanmu disana? Tentunya sehat bukan? Kamu masih menghafal surat An-Najm? Sudah hafal berapa ayat?
Masih ingat cerita tentang kaum Anshar dan Muhajirin di zaman Rasulullah? Ketika itu disana belum ada masjid sehingga Rasulullah membangun sebuah masjid yang dikenal dengan Masjid Nabawi. Hampir seperti itu keadaanku disini, kampung tempatku mengabdi belum memiliki masjid, sehingga aku dan warga sekitar berupaya keras membangun masjid, mulai dari meminta izin pendirian, mencari lokasi, mencari bahan bangunan, sampai mengumpulkan dana, itu semua sangat menguras tenaga. Bahkan sampai tiga kali kami memindahkan lokasi pendirian masjid, itu semua karena masih adanya penolakan dari warga sekitar yang mayoritas beragama Nasrani. Hingga pada akhirnya berdirilah sebuah masjid sederhana, berlantai peranggok berdinding kayu di tempat yang jauh dari permukiman warga.
@@@@
Lov, jangan ngantuk dan bosan dulu ya baca tulisanku, tinggal beberapa baris lagi akan selesai, aku ingin menyampaikan sesuatu yang sangat penting, bagi aku dan bagimu.
Dulu saat pertama aku datang kerumahmu, aku belum tahu siapa kamu, aku belum tahu wajah kamu, aku belum pernah mendengar suaramu, aku belum melihat senyum manismu, aku belum tahu keadaan keluargamu, dan aku tidak tahu mengapa aku bisa sampai kerumahmu, entah angin apa yang menuntunku hingga aku sampai disana. Mungkin jawabanya cuma satu ini “aku ingin mengenalmu ditempat yang baik, dan disaksikan orang yang baik”. Maka aku memutuskan untuk menemuimu dirumah tempat tinggal kamu dan orang tuamu, harapanya adalah agar saat kita berkenalan nanti ada orang yang mengawasi kita, ada orang baik di sisi kita, dan benarlah apa yang aku harapkan kita berkenalan dirumahmu, disekitar orang tuamu.
Meskipun aku bukanlah lelaki yang baik sebaik Ali yang memperistri Fatimah, namun harapanku semoga cintaku adalah sebuah cinta yang murni, yang tak mengejar gemerlap duniawi, yang tak hanya mengejar hasrat biologis saja, yang tak mengejar kesempurnaan ragawi semata, dan bukan roman picisan tentunya.
Sayang, pernahkah kamu melihat gunung Semeru di Jawa Timur? Yang puncaknya dinamakan Mahameru? Gunung tertinggi di Pulau Jawa? Lebih besar dan tinggi dari itu cintaku padamu, bahkan Himalaya sekalipun takan mampu menandinginya. yang jelas aku sangat mencintaimu, namun ada sesuatu yang membuatku harus menulis surat ini. Akhir-akhir ini aku gelisah jika memikirkan cinta kita, ada getaran dahsyat yang mampu membuat aku tidak enak makan, membuat aku gelisah saat tidur. Rasanya ada yang berbeda dengan detak jantung ini, getaran yang aku sendiri tak tahu darimana datangnya. Apakah aku mencitai wanita lain? Mungkinkah aku mencintai gadis Dayak yang terkenal cantik dan berkulit putih, yang katanya keturunan Ras Mongoloid itu? Benarkah akau terkena pelet yang dijampi-jampikan oleh dukun Dayak Benuaq yang kondang kesaktianya? Atau jangan-jangan aku kepohonan, kejadian buruk yang menimpa manusia karena Ia melanggar pantangan adat. Apakah aku perlu mengadakan upacara Beliatn agar roh jahat yang merasuki tubuhku cepat keluar?” pikiranku jadi membrunyah.
Namun sejuta pertanyaan itu jika kupikirkan lebih jauh sepertinya tidak akan terjawab, karena getaranya tak sebatas itu, yang aku rasakan bahwa getaran itu mampu menggerakan aku kepada sesuatu yang positif, dan menjauhi hal-hal negatif. Dan aku semakin yakin bahwa getaran itu adalah getaran cinta, tapi cinta kepada siapa? Aku semakin bertanya-tanya.
Suatu ketika aku shalat di masjid, setelah selesai aku berfikir keras akan hal itu di serambi, apa yang sebenarnya terjadi pada diriku? Apakah Allah sedang menarik kebahagiaan dari diriku, kemudian menggantikanya dengan keresahan dan kegelisahan?
Baru setelah lama berpikir akhirnya aku mendapatkan jawabanya, bahwa ternyata ada Maha Cinta yang hadir dalam kehidupanku, benih cinta yang dulu aku tabur, dan aku tidak sempat merawatnya kini telah tumbuh menjadi besar. Cinta Allah menghampiriku, pantas saja aku tak kuasa menahanya, karena waktu aku kecil dulu ketika belajar mengaji aku memiliki rasa yang tak mampu aku ungkapkan, dan rupanya ini yang menghampiriku saat ini. Cintaku kepada Allah melebihi segalanya.
Lov, semakin aku mendambamu, merayumu, menggombal pada kamu maka semakin jauh aku dari jiwaku yang senantiasa ingin dekat dengan Allah, namun hal sebaliknya justru terjadi, semakin aku mencintai Allah maka cintaku padamu menjadi semakin murni. Aku mampu memandang bahwa rasa yang ada pada kita hanyalah pantulan dari cinta yang dipancarkan oleh Maha Cinta. Maka dari itu aku mohon maaf bila akhir-akhir ini aku menjauh darimu, aku tak pernah menelephonmu, aku tak pernah mau berbicara padamu, itu semua aku lakukan semata untuk memupuk rasa cintaku yang lama sudah aku tinggalkan. Aku menjaga cintaku kepada Allah, berarti aku menjaga cinta Allah kepadaku. Seperti kita tahu bersama bahwa Allah dekat dengan kita saat kita mendekat kepadanya.
Ketika kita berpikir secara pendek maka akan terlihat bahwa aku menjauh darimu karena aku bosan kepadamu atau bahkan aku membencimu, wajar jika kamu berpikir demikian, namun semuanya tidaklah seperti itu, jika aku boleh menjelaskan aku ingin mengatakan ini jujur dari dalam sanubariku.
Hari itu, Rabu siang dibulan Ramadhan, matahari tampak redup bersembunyi dibalik awan tipis kota Banjarnegara. Jalanan tak seperti yang biasanya padat oleh kendaraan. Kala itu hanya beberapa sepeda motor yang sesekali melintas di jalan Dipayudha. Tetes air dari langit perlahan jatuh diatas sarung tangan hitam bergaris cokelat. Dinginya angin mulai terasa menembus jaket. Tak lama berselang air hujan turun begitu derasnya, seketika jalanan menjadi basah dan terlihat hitam mengkilat. Kakek tua berambut putih berlari kecil menuju emperan warung bakso sembari menenteng sandal jepitnya di tangan kiri, sementara tangan kananya dipakai menutup keningnya, tampak juga sepasang muda-mudi berteduh dibawah pohon Palm yang menjulang tinggi untuk memasang mantel jas hujan, di ujung gang disamping rumah bercat hijau tampak seekor anak ayam berputar-putar didepan pintu mungkin pitik itu sedang mencari induknya yang kabur bersama ayam jago ke ladang padi.
Lov, aku ingin mengatakan suatu hal kepadamu, aku ingin berkata jujur dari dalam sanubari ini. Lov, Aku ingin kita mengakhiri hubungan tanpa setatus ini, aku tak ingin membawamu semakin dalam ke lembah kemaksiatan, aku takut kamu akan semakin jauh dari kasih sayang Allah, Dzat yang maha Kasih, dan sumber segala rasa sayang yang pernah ada ini.
Jangan menangis ya, sekali lagi aku minta maaf, untuk satu tahun kedepan ini mungkin aku tak akan menelefonmu, tak akan mengirim SMS pada kamu lagi, kecuali ada hal genting yang mengharuskanya. Namun jangan menangis dulu, aku ingin bertanya padamu, maukah kamu mengatakan pada ayahmu, “bahwa ada seorang pemuda yang akan datang kepadamu suatu hari nanti, yang akan meminangmu, yang akan membawamu dalam sebuah ikatan suci, yang pada hari tiu akan ada penyerahan mahar sejati, yaitu ikatan pernikahan dua orang anak manusia di hadappan dua saksi. Bicaralah baik-baik kepada ayah dan ibumu, semoga mereka merestui hubungan kita. Dan semoga kamu rela menantikan aku menyelesaikan tugas mulia ini untuk Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia.

Wassalamu’alaikum Wr Wb

Aku yang Mencintaimu


Gendis Suprayitno, S.Pd

Jumat, 29 April 2016

Bribik Ulin

Masih saja bergeleser di karpet itu, tanpa semangat menggapai hidup, seakan kau tak lama lagi. Ada kalanya melirik kecil ke ujung jendela memastikan hujan telah reda, namun cicak putih berkaki culas membisikan lirih diujung lampu "tidur aja, hari masih pagi".
Ah dasar pemalas memang, maunya molor mulu didalam sentong gelap tanpa teman. Apa coba enaknya hidup kalau cuma menyendiri, jangankan teman memncing, seekor kucingpun kau tak punya.
Bribik kamar memang susah untuk dibasmi, selalu saja mencari celah diantara slempitan. Dinasehati pun tiada guna karena hatinya telah mengkristal kalau gak mau disebut membatu (fosil).

Kamis, 07 April 2016

Banjir Besiq Kutai Barat

Dikala Gendis merasakan bercampurnya sedih sekaligus senang dengan adanya Suasana Banjir di Kampung Bermai Kecamatan Damai Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur, Indonesia

SM-3T 2016

SM-3T merupakan program unggulan Kementerian Pendidikan Nasional Era emerintahan presiden SUsilo Bambang Yudhoyono, tepatnya pada saat menteri Pendidikan dijabat oleh M Nuh. program ini dimaksudkan untuk pemerataan guru di seluruh wilayah Indonesia, khususnya di daerah-daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).
program ini digadang-gadang dapat mengatasi permasalahan pendidikan yang ada di Indonesia, baik itu dari segi peserta didik, maupun bagi guru itu sendiri. melalui program SM-3T seorang guru di tempa untuk menjadi guru profesional yang memiliki kompetensi yang mantap.
program SM-3T yang di gandengkan dengan program PPG (Pendidikan Profesi Guru) berasrama diharapkan mampu meningkatkan profesionalitas guru.
bagaikan pepatah lama yang berbunyi " Patah Tumbuh hilang Berganti" seiring dengan bergantinya penguasa maka berganti pula kebijakan, program SM-3T pun digoyang bagaikan pinus di musim kewolu (pranata mangsa), semuanya kembali menjadi abu-abu