group

group

Sabtu, 22 Juli 2017

Musyawarah Akbar

Musyawarah Akbar

Waktu itu aku masih berusia sembilan tahun ketika ibu menawari untuk melaksanakan khitan. Khitan atau yang biasa disebut sunat atau sepit dalam bahasa lokal kami umumnya dilakukan saat seorang anak laki-laki memasuki usia sembilan sampai sepuluh tahun, walaupun sebagian juga melakukan pada usia dua belas tahun. Menurut kepercayaan orang jawa bahwa usia ini sangat cocok untuk melaksanakan khitan. Jika terlalu muda/kurang dari sembilan tahun maka dipercaya oleh mereka akan mengalami perlambatan dalam tumbuh kembang seorang anak. Kunjeng.
Pawon/dapur menjadi tempat kami biasa membicarakan permasalahan sehari-hari disamping fungsi utamanya sebagai ruang memasak bagi ibu-ibu di kampung kami. Malam itu kami sekeluarga berkumpul di pawon untuk membahas rencana acara khitanku. Aku sendiri masih belum yakin dengan keputusan itu. Aku masih belum siap melaksanakan khitan. Usiaku yang baru Sembilan tahun yang kala itu masih duduk di bangku kelas empat SD sempat membuat aku ragu.
“usiamu sudah cukup”, kata ibu menasihatiku. “kita masih punya dua sapi yang dapat dijual sebagai modal melaksanakan acara”, lanjut ibu menjelaskan.
Keadaan keluarga pada saat itu memang sedang baik, di kandang belakang rumah persis terdapat dua sapi, beberapa ekor kambing, dan ayam. Selain ternak yang menjadi tumpuan utama keluarga di kandang juga ada beberapa ekor marmut peliharaanku. Sebagai petani di kampung apabila memiliki ternak peliharaan maka sangat membantu untuk menopang kebutuhan. Khususnya kebutuhan yang menelan biaya besar. Aku masih ingat dua sapi di kandang berwarna putih bersih bermata jernih, bertanduk jagrak di kedua sisi kepala, serta ekor panjang yang lebat di bagian ujungnya. Kaki-kakinya kokoh menopang badan yang gemuk seberat 500 pon. Bagian pantatnya sintal layaknya karung yang sarat akan beras barito. Sapi itu menjadi bersih karena dirawat dengan baik, kandangnya diberi geladak dari bambu betung yang kuat dan memiliki diameter paling besar diantara bambu lainnya. Tempat makanannya biasa disebut makanan terbuat dari papan kayu nangka yang telah nggalih kuning karena usianya yang matang. Palang-palang pembatas (palon) terbuat dari bambu tali yang kuat dan lentur dimaksudkan agar tidak mudah patah apabila disandari oleh sapi yang tak kecil itu. Untuk pengikat pada palon, sapi dipasangkan dua utas tali tambang yang terbuat dari jalinan benang yang sangat kuat dan lentur, tali ini dapat bertahan selama setahun mulai dari awal sapi dibeli sampai pada saat sapi dijual.
Api masih berkobar merah membara memakan kayu kaliandra kering dalam tungku. Masing-masing kami mengitari api, duduk di atas jengkok sambil memeluk lutut. Duduk khas penduduk desa di pegunungan. Di samping kami ada meja berukuran 50 X 120 cm. diatasnya terdapat singkong rebus dan air teh hangat sebagai hidangan teman ngobrol. Keputusan belum juga didapat walaupun sudah banyak yang dipertimbangkan oleh anggota keluarga. Aku masih kekeh untuk tidak khitan dalam waktu dekat.
Ibu kembali merayu, “nak, usiamu sekarang sudah sembilan tahun, kamu sudah cocok untuk melaksanakan khitan, ibu dan bapak masih kuat membiayai hajatan. Coba kamu lihat teman-teman kamu, mereka banyak yang sudah khitan, apa kamu tidak iri melihat mereka?”. Ibu terus berbicara padaku dengan suara lembutnya. “pamanmu juga tak lama lagi pasti akan menikah, padaal kamu tahu bahwa biaya pernikahan itu tidak sedikait. Kalau kamu sunat sekarang maka kami punya waktu untuk mempersiapkan biaya pernikahannya. Kami akan kerepotan jika nantinya acara khitan kamu berdekatan dengan acara pernikahan paman kamu. Maka dari itu, ibu sangat berharap agar kamu mau sepit “.

Dengan berat hati akhirnya aku mengiyakan permintaan ibu. Semua orang yang berkumpul terseyum gembira. Teh hangat segera dituang dari teko, kami semua minum dan makan singkong rebus yang sedari tadi telah tersedia.

Rabu, 14 Juni 2017

Pelita Negeri

Pelita Negeri

Terbangun ku di penghujung malam
Lamat-lamat coba kubuka mata
Gulita berkuasa atas segala yang ada
Tiada merah tiada jingga

          Hingga pada suatu waktu
          Di sela dinding gedheg bambu
         Terpancar jelas seberkas cahaya
         Menerobos tajam menembus gelap
         Beri  harapan kedua mata


Saat detik berganti pagi
Cahaya itu semakin nyata
Memancar luas keseluruh sudut negeri
Terangi jiwa yang tlah lama dahaga

       Ingin rasanya mengungkap segala rahasia
       Padamu wahai anak manusia
       Selayaknya kau bakti tundukan rasa
       Pada pahlawan tanpa tanda jasa
      

Becapet (Nostalgia Pasar Karangkobar)



Becapet 

Pipt kecit berkicau di pagi yang cerah, merdu mencuit diantara heningnya suasana desa, bertengger mesra diatas ranting kecil yang rapuh, mata kecil bening menatap tajam tanpa dosa, kaki lentik mencengkeram erat pada ranting penuh percaya diri. 

Terbang melayang tinggalkan sarang dalam peraduan, menyusuri awan putih menyongsong masa depan, mencari secercah cahaya bening yang mungkin masih tersisa untuk si kecil yang baru saja menginjak masa remaja. Mendengar di sebuah rawa ada suatu celah yang dapat di singgahi untuk sekedar mengecap segarnya air murni yang sejak dulu di impikan oleh semua orang, air suci minuman para dewa, air yang dapat menjadikan orang tersenyum meskipun sedang gundah hatinya, menjadikan orang menangis bahagia sekalipun telah lepas kuku dari jarinya, dan konon air ini dapat mengabulkan semua cita-cita. Air ini telah diteguk oleh Soekarno kecil yang pada masanya menjadi Presiden pertama Republik Indonesia, air ini diminum oleh Bill Klinten, Einstein, Habibie, Ibnu Sina, Aristotels, SBY, Jokowi, dan juga pak Peno.

Hari itu adalah Senin Manis, Februari 2002 di pasar Karang Kobar. terlihat di pojok pasar seorang tukang becak tengah mengelap velg roda becaknya yang kusam karena debu, di pundaknya nampak handuk putih kecil bergambar mickey mouse yang telah basah karena keringat. Wajahnya hitam karena terusik oleh tajamnya sinar matahari setiap hari. Betisnya terlihat besar dan kokoh menandakan ia seorang pekerja berat. Senyum simpul kadang terlihat ketika mendengar teman seprofesinya bercanda di sampingnya. Manis, manis sekali senyumnya. Senyum seorang pria yang tulus tanpa beban penderitaan sedikitpun. Jika boleh aku membandingkanya “ mungkin seperti inilah senyum para calon penghuni surga ketika menerima buku catatan amalnya”.

“Pak antarkan saya ke terminal” pinta seorang ibu yang tengah membawa belanjaanya.

Pak Agus segera menyambut barang belanjaan ibu tadi dan menaruhnya di becak, kemudian ibu itu masuk ke becaknya. Pak agus mulai mendorong becaknya sambil berlari kecil. setelah sekitar 10 m berlari kemudian ia meloncat ke jok becaknya khas seorang tukang becak. ketika bekerja ia selalu semangat mengontel pedal andalan. 

“udah sampai Bu”.
“makasih, berapa pak?”.
“dua ribu aja Bu”.

Begitulah keseharianya membantu membawakan barang belanjaan siapapun yang membutuhkan jasanya tanpa membedakan nama, tampang, kepribadian, jabatan, gelar akademik, status sosial, ataupun asal daerah. 

Masih di pasar Karang Kobar yang ramai oleh penjual dan pembeli. Ada penjual sandal, sprei, baju, cangkul, mainan anak, sayuran, jamu, ikan, telur, bakso, soto, tape, ketan, tiwul, bawang, berambang, cabe, dll. Mereka berdagang dengan penuh kesabaran dan toleransi antar sesama pedagang. Mereka  duduk bersama berderet khas pasar tradisional. Seluruh waktunya dihabiskan untuk menjajakan barang daganganya.

Ada hal unik yang selalu dimiliki oleh pasar. Sebuat aja ia si ahli silet, kemampuanya tak diragukan lagi, ia mampu melakukan pekerjaanya dengan sangat rapi tanpa diketahui orang, orang akan mengetahui ia bekerja ketika pekerjaanya telah selesai, mungkin karena ia tidak sombong, tidak mau memamerkan kehebatanya dalam bekerja, hehe...

           Namun sayang sekali pekerjaanya ini kadang membuat orang menjadi jengkel, marah-marah, dan ada pula yang menangis tersedu setelah melihat tas kesayanganya telah robek halus tersayat, dan setelah membuka tas ternyata tak tersisa lagi dompetnya.

Selasa, 18 April 2017

PPG SM-3T UMM Malang

PPG SM-3T UMM Malang

          Hari ini, Selasa, 18 April 2017. aku masih duduk di atas kursi lipat beralaskan karpet. baju putih celana hitam khas anak sekolah masih menempel lekat menutupi badan yang mulai penguk karena keringat yang berjubel. Tampak dosen senior Dr. Endang Poerwanti duduk manis dibalik meja besar berwarna hitam, sesekali Beliau mendekati mahasiswa untuk memberikan bimbingan individual disamping bimbingan klasikal. suaranya masih sangat jelas sekalipun usia sudah tidak lagi muda. pengalaman hidup yang begitu matang membuatnya indah dalam setiap untaian kata yang terlontar dari lisan yang mulia itu. 
          31 Mahasiswa berjuang keras mengikuti work shop perangkat pembelajaran. Unik ekspresi masing-masing. Febri masih seperti biasa duduk di pojok ruang kelas, bersandar pada almari hitam bersaun kaca. sementara di sebelah kanannya Yuni Erma Safitri tengah asyik mengamati Gadget, mungkin sedang melakukan proses pengamatan. bagian dari saintific aproach. tak ketinggalan salah seorang sahabat perempuan Yuni, dialah Fitria Fatmawati alias Pipiet. sosok panutan bagi teman-teman yang lain. mungkin sahabat telah mafhum bahwa kedewasaan pikir memang tak dapat diabaikan. kematangan psikis serta akademik membuatnya terlihat begitu anggun.
           Beginilah urutan berikutnya  Nezi rahmadeni, Ifmelia, Ervira Mareza, Oki Dika Gura, Eko Febrian, Tya Pritaweni, Ika Sari Listyowati, Rika Febri feronika, Yulia Septi Yona, Yulis Marika Putri, Mila Arifa, Satoto, Rahmi Anake, Kharisma Amalia Balqis, Istiqomah, Dina Rizkiana, Alhusna hilda, Valinda Yustia, Etika Dwi Pangesti, Trisna Novinda, Lasmaniar Sinambela, Ibrohim Abah Imron, Ayu Sulisetyo Rini Minki Bintari, Ari Gunawan, Muhamad Miftakhur Rohman, Mazidatul Atiyah.
           Cerita menarik dari seorang "Eyang Putri"  panggilan akrab Dr. Endang Poerwanti menambah hangat suasana Malang pada sore yang kian dingin membeku. Masih pada situasi dan tempat yang sama, sebagian mahasiswa telah mulai mendelosor, dan berselonjor, mungkin sekedar melenturkan otot-otot yang sedari pagi telah terpasung diatas kursi perkuliahan. Duduk diatas kursi ini memang begitu menguras tenaga, sekalipun hanya duduk. terbayangkan bagaimana bentuk darah yang tiada pernah dibawa berolahraga. seharian penuh hanya duduk menghadap laptop dengan seperangkat lembar kerja yang memburu waktu. 


Kunang-kunang



Kunang-kunang

Kunang-kunang kecil malangku
          Dikala pagi datang kau hilang entah kemana
                     Bersembunyi dibalik kenikir
                             Tertutup sinar mentari
                                        Tak seorangpun  pernah tahu
                              Aku tidak tahu apakah kau malu
                  Aku tak tahu apakah engkau membisu
          Aku juga tak tahu apakah kau bertapa
       Ataupun kau sekedar malih rupa
Namun yang jelas
       Manakala senja menjelang
            Cahaya temaram tampak darimu
                  Kekaguman manusiapun mulai datang
                        Semakin gelap semakin terang cahayamu
                  Kaulah kunang-kunang dakwah
            Tetaplah tenang disaat cerah
Jadilah pencerah disaat langkah melemah

Ibu



Ibu
Kau begitu mempesona
Memancarkan bening aura cinta
Eleananoor tak secantik parasmu
Zulaikha tak sebanding denganmu
Kau begitu indah
Karna kau adalah mawar putih ditengah rawa
Taman lumbini tak seindah kasihmu

         Kau begitu bijak
         Kebijakanmu meliputi hati dan jiwamu
         Kau begitu sakit
         Ketika aku tersakiti
         Kau begitu tersiksa
         Disaat diri ini dicaci dan dihina
         Kau begitu menderita
         Ketika aku terbaring diatas matras dililit infus
         Kau begitu
         Begitulah engkau

Senin, 17 April 2017

Aku Pernah Jadi Pengusaha



SEMANGAT
(dua tahun yang lalu)
Ini adalah hari Senin Manis, hari yang ditunggu-tunggu para pedagang pasar Karang Kobar, karena pada hari ini semua pedagang dan pembeli tumpah ruah di semua sudut pasar. Mungkin kita semua telah mafhum bahwa hari pasaran itu ada lima, yaitu manis/legi, pahing, pon, wage, dan kliwon.
Jarum jam menunjukan pukul 5 pagi, aku bergegas mengemasi gula daganganku untuk dimuat oleh mobil tlompak ke pasar yang selanjutnya dijajakan ke toko-toko. Alhamdulillah cuaca pagi ini sungguh cerah, udara berhembus begitu sejuknya, daun-daun dan rerumputan masih basah oleh embun. Di atas atap terdengar suara burung pleci bersahutan, mungkin mereka sedang merebutkan sarapan yang cuma secuwil. Ga’ tahu ah, biarin mereka rebutan. Toh suara ribut mereka membuat suasana menjad semakin asri.
Pinten mas gulane? (berapa mas gulanya?)
Rolas lima (duabelas ribu lima ratus rupiah), jawabku.
Lha kok larang temen mas, gula ka mundak saben dina (lho kok mahal sekali mas, gula kok setiap hari naik).
Lah wong sekang gone juragane watek regane uwis larang (memang dari pabrik harganya sudah mahal).
Donge ya dikurangi sepira-pira mbokan ya mas! (harusnya dikurangi berapa lah mas!).
Jen ora bisa babar blas niku mba, saniki regine awis sanget (beneran tidak bisa sama sekali. Sekarang harganya sangat mahal).
            Begitulah percakapan yang terjadi pada awal pagi itu di salah satu sudut pasar. Percakapan wajar antara seorang penjual dan pembeli, begitu dan begitu terus berlanjut hingga datang seorang lelaki muda kurus berkulit putih.
Pak gendise ken pinten?” (pak gulanya ditawarkan berapa?), begitu tanyanya padaku.
Kalih welas setengah pak!” (duabelas setengah pak!).
Deneng awis temen ya pak?”. (kok mahal sekali pak?).
Enggih niku, saniki regine seg awis sanget!” (iya sekarang harganya sedang mahal sekali!).
Yauwis, kula di paringi gangsalwelas, di jujugaken meng tokone inyong ya!”. (yasudah, aku diberi 15 kantong. Antarkan ke toko saya ya!).
Enggih pak!”. (baik pak).
            Allhamdulillah, gumamku dalam hati, akhirnya ada juga yang membeli dalam jumlah banyak. 15 kantong. Itu artinya 150 kg = 1500 ons, atau lebih tepatnya 1.500.000  gr.
Wah, betapa bahagianya aku. kerja kerasku selama setahun  berbuah pelanggan besar coy….