Hay… bagaimana kabar kamu disana?. Aku berharap kamu sehat
dan selalu riang seperti saat aku meninggalkanmu dua bulan yang lalu. Memang
aku saat itu tidak menjelaskan padamu secara gambling tentang keperianku ini.
Namun, hendaknya semua ini tidak mengurangi rasa percaya kamu padaku. Kalung
merjan yang kau berikan dulu di atas bukit Savi masih kupakai setiap hari,
bahkan ketika aku mandi sekalipun tidak kulepas. Hal ini sengaja kulakukan
sebagai bentuk kesetiaanku padamu. Takan pernah ada yang mampu menggantikan
dirimu walau sedetikpun.
Vy, Lovy. Saat ini aku sibuk dengan tugas kuliah di kampus
baru. Beberapa mata kuliah dapat aku pelajari segera. Namun untuk beberapa mata
kuliah yang lain masih perlu adaptasi. Beeberapa diantaranya terasa begitu asing. Rasanya benar-benar
butuh perjuangan agar dapat menyesuaikan diri dengan pembelajaran yang
sekarang.
pada suatu Sabtu, rasa jenuh menghampiri. Malas gerak rasanya diri ini. mandipun seakan tak menyegarkan lagi, bahkan sekedar membasahi wajah dengan air saja begitu berat untuk dilakukan. seolah-olah kamar mandi ada tulisannya IGD. semua orang jelas merasa enggan untuk memasukinya. Dari balik jendela terdengar sayup-sayup suara para gadis berceloteh. kucoba menoleh ke seberang sana. berharap salah satu diantara yang bercakap itu adalah kamu. perempuan semampai yang selalu tergantung di pelupuk mata.
Selimut tebal itu kusingkirkan segera. hati kecil mengatakan bahwa kemalasan bukanlah sesuatu yang menakutkan, ia masih bisa dilawan dengan kemauan. Strategi yang baik harus segera disusun untuk menghadapi tokoh ini. banyak diantaranya yang hancur berantakan dipecundangi olehnya. namun tidak begitu dengan aku. Takan rela diri ini dikalahkan begitu saja olehnya. kuhancurkan dia kalau sampai berani menyentuh kulitku. kubuat dia tak berdaya saat ada di depanku. meski harus kupasang muk sangar tak peduli. Keinginan untuk menang sudah terlanjur membara dalam dada ini.
Angkot biru yang warnanya mulai pudar disana-sini, juga bekas dempul tampak jelas pada setiap lingirnya. Tanpa musik, tanpa pengukur kecepatan, tanpa sabuk pengaman juga tentunya. Maklum. kuhentikan ida dengan sekali saja melambaikan tangan. tepat di depan gerbang Universita Pembangunan Arema (UPA) Kota Malang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar